Gambar

Kamis, 24 Maret 2016

Contoh Penalaran

Sungai di Jabar Penuh Polusi, 35 Persen Warganya Kekurangan Air Bersih

Kamis 24 Mar 2016, 20:36 WIB ||Erna Mardiana - detikNews

Sungai di Jabar Penuh Polusi, 35 Persen Warganya Kekurangan Air Bersih 

Bandung - Polusi sampah sungai di Jawa Barat (Jabar) parah. Setiap tahunnya sekitar 800 ribu ton sampah mengotori Sungai Citarum. Sehingga tak mengherankan apabila 35 persen warga Jabar kesulitan air bersih.

""Tidak semua warga bisa mengakses air bersih. Ada sekitar 35 persen masyarakat kita yang tidak bisa mendapat air bersih," kata ubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Kamis (24/3/2016).

Dengan begitu, lanjut dia, kesehatan warga menjadi terganggu. "Jangan-jangan kesehatan gratis tidak tepat. Asuransi kesehatan tidak tepat. Harusnya menjaga kesehatan dengan menjaga air bersih," katanya.

Karena itu, lanjut Aher, Pemprov Jawa Barat menggelar program Citarum Bestari tahun ini. Dalam enam bulan ke depan, TNI AD akan dilibatkan untuk menjaga sungai Citarum. Di mana ditargetkan, 20 kilometer pertama sungai Citarum akan disterilkan.

Karena itu Aher meminta masyarakat untuk mengubah prilakunya dengan tidak membuang sampah ke sungai. "Kalau kita berhasil membangun kultur, mengajak masyarakat untuk mengubah perilaku, kualitas air akan betul-betul terjaga. Manusia harus memahami nilai air dengan baik," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jabar Eddy Iskandar Nasution menyatakan kebutuhan manusia akan air bersih sangat besar. "Tak ada kehidupan tanpa air. Bahkan air ini komponen paling banyak di tubuh kita. Jadi memang tepat harus menghargai air," katanya.

Kesadaran masyarakat memang diakuinya paling penting. Semua pihak harus bekerjasama dalam menjaga sumber air bersih. Konservasi dan pelestarian sumber air harus menjadi perhatian utama. "Selain meningkatkan kerjasama antar badan pemerintah, sosialisasi ke masyarakat juga perlu," ujar Eddy.

(ern/err)

sumber: http://news.detik.com/jawabarat/3172900/sungai-di-jabar-penuh-polusi-35-persen-warganya-kekurangan-air-bersih 

Alasan:

Berita di atas merupakan contoh dari penalaran berpikir induktif. Karena pada paragraf pertama yang dibahas adalah masalah sungai di Jawa Barat yang mengalami polusi. Selanjutnya diikuti dengan paragraf yang menjelaskan hal-hal umum.

Penalaran, Berpikir Deduktif, dan Berpikir Induktif

  1. Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Proses inilah yang disebut menalar. Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu deduktif dan induktif.
  1. Penalaran Deduktif
Paragraf Induktif adalah paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahan-permasalahan khusus (mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri dengan kesimpulan yang berupa pernyataan umum. Paragraf Induktis sendiri dikembangkan menjadi beberapa jenis. Pengembangan tersebut yakni paragraf generalisasi, paragraf analogi, paragraf sebab akibat bisa juga akibat sebab.
Contoh paragraf Induktif:
Pada saat ini remaja lebih menyukai tari-tarian dari barat seperti breakdance, Shuffle, salsa (dan Kripton), modern dance dan lain sebagainya. Begitupula dengan jenis musik umumnya mereka menyukai rock, blues, jazz, maupun reff tarian dan kesenian tradisional mulai ditinggalkan dan beralih mengikuti tren barat. Penerimaan terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai dengan pelestarian budaya sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-lahan menggeser kesenian dan budaya tradisional.
Contoh generalisasi:
Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
∴ Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

 3. Penalaran Induktif
     
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
  • Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
  • Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat

sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran