Gambar

Kamis, 19 Juni 2014

Resensi Novel : Till We Meet Again



Resensi Novel



Judul                          : Till We Meet Again
Pengarang                  : Yoana Dianika
Penerbit                      : Gagas Media
Tahun Terbit             : 2011
Jumlah Halaman       : 298
Cetakan                      : 2
Harga                         : Rp 40.000,00

Sinopsis
Elena Sebastian Atmadja adalah seorang gadis blasteran Indo-Eropa. Ayahnya, Sebastian berasal dari Indonesia dan ibunya, Esther berasal dari Austria. Suatu ketika Esther mengalami kecelakaan pesawat yang membuat Elena kehilangan ibunya. Ibunya meninggalkan kalung liontin biola kepada Elena.
Dua bulan setelah kematian Esther, Elena dan Sebastian memutuskan kembali ke Indonesia karena ayahnya ingin mengubur kenangannya bersama istrinya di Wina. Sebelum kembali ke Indonesia Elena kehilangan kalung di Schloß Schönbrunn. Ketika ia sedang mencarinya, Elena bertemu dengan seorang anak laki-laki seumuran dengannya. Anak itu berambut pirang dan bermata kelabu. Anak tersebut membantu Elena mencari dan memberikan kaiserschmarrn (sebuah makanan) buatannya kepada Elena yang dibuatnya dengan cinta. Hal tersebut menjadi kenangan indah untuk Elena sebelum meninggalkan Wina.
Ketika Elena beranjak remaja, ayahnya mengizinkannya untuk kuliah di Universitas Wina, karena ia melihat bakat anaknya bermain biola dan berperan di seni teater. Akhirnya ia mengambil jurusan seni teater.
Sesampainya di Wina ia tinggal di sebuat apartemen bersama dengan teman sekamarnya yaitu Doput dan Kimiko. Ketika itu ia menyadari bahwa tetangga kamarnya adalah pria yang mirip dengan teman kecilnya dulu. Sebelumnya ia telah bertemu di bandara. Namanya Häns Steffano yang dikiranya pangeran saus cranberry-nya. Tetapi Elena salah orang. Ternyata teman kecilnya adalah Chris yang manis dan ramah, mata birunya yang dilindungi kacamata minus mencerminkan seorang ice breaker yang ceria. Serta seorang Jessica Pölzer, seorang Indo blasteran Asia yang makin memperumit kehidupan Elena di Austria.

Jenis Novel
Novel Romantis

Bahasa
Menggunakan bahasa yang dimengerti yaitu bahasa Indonesia, meskipun ada beberapa bahasa asing yang disajikan namun penulis memberikan arti dari bahasa asing tersebut.

Unsur Instrinsik
1.      Tema              
Bertemu dengan cinta masa lalu.

2.      Alur                
Alur campuran, karena sempat menceritakan masa lalu yaitu ketika    Ibunya  Elena, Esther mengalami kecelakaann pesewat dengan ibunya Chris, Elisabeth.

3.      Perwatakan
a. Elena: gadis yang ceria, bersemangat, berambisi.
b. Chris : pria yang cuek, cool, bersabar, dan peduli.
            c. Häns : pria yang menyakiti hati Elena.
d. Jessica : seorang wanita yang merusak hubungan Elena dengan pria yang                              didekatnya.
e. Sebastian : ayah yang peduli dan penuh cinta.
f. Esther : ibu yang perhatian dan penuh cinta.
g. Kimiko : Gadis Jepang yang penuh kemeriahan.
h. Doput : Gadis Perancis yang dingin namun perhatian.
i. Elisabeth : Ibu Chris yang perhatian.
4.      Latar
a.       Tempat : di rumah, Wina, Taman Stadtpark, Sungai Donnau, Schloß Schönbrunn, Cina, di Jerman, Indonesia, di Praha.
b.      Waktu : pagi hari, siang hari, malam hari, musim panas, musim dingin.
c.       Suasana: patah hati ketika kehilangan pasangan hidup, kehilangan kekasih yang direbut, bahagia ketika bertemu dengan cinta masa lalu, bahagia ketika sama-sama bermain biola dalam satu panggung.

5.      Sudut Pandang
Pemain seperti Elena, Chris, Hans, dan Jessica yaitu orang pertama pelaku utama. Sisanya adalah orang pertama pelaku sampingan.

6.      Amanat
Cinta yang senjati butuh waktu untuk diungkapkan. Bukan dilihat dari masa lalu tetapi melihat cinta dengan murni.

Unsur Ekstrinsik
1.      Sejarah Penulis
Yoana Dianika adalah pemenang ketiga dari lomba 100% Roman Asli Indonesia. Wanita ini terlahir sebagai anak nomor dua dari 3 bersaudara. Ia adalah seorang dreamer yang memiliki banyak keinginan untuk dicapai, salah satunya menjadi seorang penulis yang memiliki karya tak terlupakan. Yoana adalah mahasiswa di UNAIR yang mengambil jurusan Sastra Jepang.

2.      Nilai-nilai Kehidupan
a.       Nilai Moral: setiap orang memiliki hak untuk mencintai, namun kita harus sadar jika seseorang sudah dimiliki, kita tidak boleh merebut hak tersebut.
b.      Nilai Sosial Budaya: terdapat campuran budaya Eropa dan Indonesia. Budaya Eropa yang ditonjolkan adalah bahasa komunikasinya yaitu bahasa Jerman, budaya teater, serta budaya musik klasik. Sedangkan budaya Indonesia yang ditonjolkan hanya komunikasi dengan bahasa Indonesia.
c.       Nilai Estetika: ketika Chris mengungkapkan tentang hubungannya dengan Jessica, mantan pacarnya kepada Elena dan menyatakan perasaannya juga di kota Praha.

Nilai Buku
1.      Kelebihan
Buku ini menjelaskan romantisnya hubungan remaja di kota Wina. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia namun terdapat beberapa kalimat yang diganti dengan bahasa asing seperti bahasa Jerman, Jepang, dan Inggris. Selain itu, penulis mengajak pembaca terbawa arus suasana dalam novel tersebut, sehingga pembaca seakan-akan sedang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
2.      Kelemahan
Awal cerita sedikit monoton sehingga pembaca agak bosan.
Komentar
Menurut saya cerita ini sangat menarik karena penulis mengajak pembaca untuk mengenal budaya Eropa lewat tulisannya. Lalu alur ceritanya mudah dimengerti dan bahasa yang digunakan cukup komunikatif. Serta masalah yang diangkat memang sudah biasa namun penulis menyajikannya dengan kemasan yang menarik sehingga pembaca menjadi penasaran akan akhir dari cerita tersebut.
Kesimpulan
Buku ini layak dibaca dimulai dari usia remaja karena selain cerita cinta, novel ini menyajikan pengetahuan akan budaya Eropa yang belum kita ketahui.



Selasa, 11 Februari 2014

Ilmu Sosial Dasar (BAB I)



A.    Pendahuluan
Perguruan Tinggi menghasilkan sarjan-sarjana yang berkemampuan atas:
1.      Kemampuan akademik
2.      Kemampuan profesi
3.      Kemampuan pribadi
Tujuan:    Menghasilkan sarjana yang cakap dan ahli di bidang yang ditekuni, serta mampu dan mau mengabdikan keahliannya untuk orang lain.
Kemampuan akademik dan profesi lewat Mata Kuliah Keahlian (MKK),.
Tujuan:    Memberi keahlian dan kempuan menerapkan keahlian.

Kemampuan pribadi, lewat Mata Kuliah Dasar Umum (MKUD), yaitu:
1.      Pancasila
2.      Agama
3.      Kewiraan
4.      Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
5.      Ilmu Alamiah Dasar (IAD)
6.      Ilmu Sosial Dasar (ISD)
7.      Ilmu Budaya Dasar (IBD)

B.     Ilmu Sosial Dasar

1.      Pengertian
ISD dibagi menjadi 3, yaitu:
a.       Natural Science     :    fisika, kimia, biologi, astronomi,dll
b.      Social Science       :    sosiologi, geografi, ekonomi, politik antropologi, sejarah,dll.
c.       Humanities            :    agama, bahasa, kesusastraan, kesenian, dll.
ISD adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan pertain-pengertian (fakta, konsep, teori_ dari bidang pengetahuan sosial. ISD bukan gabungan dari ilmu-ilmu sosial karena tidak mungkin dipadukan. ISD juga tidak punya objek dan metode ilmiah tersendiri dan tidak mengembangkan penelitian.

2.      Tujuan
Tujuannya membina mahasiswa agar:
a.       Memahami dan menyadari kenyatan dan masalah sosial di dalam masyarakat.
b.      Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk memanggulanginya.
c.       Menyadari setiap masalah sosial yang timbul di dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mendekati mempelajarinya secara kritis – inter disciplin.
d.      Memahami jalan pikiran para ahli di bidang ilmu pengetahuan lain dan berkomunikasi untuk menanggulangi masalah sosial.

C.    ISD dan IPS

1.      Persamaan
a.       Bahan studi untuk kepentingan pendidikan / pengajaran.
b.      Bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
c.       Punya Materi dari kenyataan sosial dan masalah sosial.

2.      Perbedaan
a.       ISD diberikan di perguruan tinggi, IPS di SD dan sekolah lanjutan.
b.      ISD mata kuliah tunggal, IPS merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran.
c.       ISD diajarkan untuk pembentukan sifat dan kepribadian, IPS diarahkan untuk pembentukan dan keterampilah intelektual.

D.    Ruang Lingkup ISD

3 Golongan ISD, yaitu:
1.      Kenyatan-kenyataan sosial dalam masayrakat secara bersama merupakan masalah sosial teretentu. Kenyataan tersebut sering ditanggapi berbeda oleh para ahli ilmu sosial dasar, Maka dari itu, ISD butuh pendekatan interdisiplin / multidisiplin.

2.      Konsep-konsep sosial dan pengertian kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar / elementer saja yang perlu dipelajari masalah-masalah lalu dibatasi oleh IPS.
Contoh: Konsep keanekaragaman dan konsep kesatuan nasional.
a.       Persamaan dan perbedaan pikiran dan tingkah laku.
b.      Persamaan dan perbedaan kepentingan. Timbul konflik, kesetiakawanan, dan kerja sama.

3.      Masalah-masalah Sosial
a.       Berbagai masalah kependudukan dalam hubungannya dengan perkembangan. masyarakat dan kebudayaan.
b.      Masalah individu, keluarga, dan masyarakat.
c.       Masalah pemuda dan sosialisasi.
d.      Masalah hubungan antarwarga negara dan negara.
e.       Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
f.       Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan.
                  g.      Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integritas. 
                  h.      Pemanfaatan IPTEK bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.


 Soal Latihan

    1.      Perbedaan ISD dan IPS ialah, kecuali:
a.       ISD diberikan di PT
b.      Punya materi dari kenyataan sosial dan masalah sosial
c.       IPS merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran.
d.      IPS diberikan di SD dan sekolah lanjutan
e.       ISD diajarkan untuk pembentukan sifat dan kepribadian, IPS diarahkan untuk pembentukan dan keterampilah intelektual.
Jawaban   :  B

    2.      Salah satu tujuan dari ISD ialah
a.       Membuat mahasiwa tidak peduli dengan masalah-masalah sosial.
b.      Menjadi mahasiswa yang bersifat individualisme.
c.       Hanya mengetahui dan dikembalikan ke pemerintah.
d.      Menyadari setiap masalah sosial yang timbul di dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mendekati mempelajarinya secara kritis – inter disciplin.
e.       Tidak paham tentang kenyataan dan asalah sosial di dalam masyarakat.
Jawaban   :  D