Gambar

Minggu, 12 Oktober 2014

Cerdas dan Bijak Menggunakan Tablet

Tablet PC semakin populer. Bukan hanya di kalangan dewasa dan orang tua, anak usia dini pun sekarang sudah mulai banyak menggunakan. Bisa kita lihat di sekitar atau tetangga kita yang rentang usianya antara 4-7 tahun, kebanyakan sudah dibelikan tablet oleh orang tuanya.

Kondisu tersebut memperlihatkan bahwa penetrasi pasar Tablet PC sungguh luar biasa. Wajar bila Indonesia lalu disinyalir sebagai bangsa terbesar pasar Tablet PC.

Sayangnya, saat ini tablet sebagian besar digunakan untuk hiburan seperti bermain game dan menonton video saja. Menurut survei yang dilakukan oleh perusahaan teknologi dan riset, Gartner mengungkapkan bahwa orang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton film, mendengarkan musik, dan bermain games di Tablet.

Senada dengan Gartner, survei yang dilakukan oleh Google AdMob pada lebih dari 1,400 pemilik Tablet di AS disebutkan bahwa 84 persen dari pemiliknya lebih menyukai aktivitas bermain game dibandingkan mencari info atau browsing.

Sama seperti di Amerika, masyarakat kita pun "doyan" menggunakan Tablet untuk bermain game. Hal ini dibuktikan oleh survei yang dilakukan Samsung Indonesia beberapa waktu lalu. Dalam survei tersebut memperlihatkan di Indonesia kebanyakan Tablet digunakan untuk bermain game.

Namun fenomena yang menyedihkan justru orang tua membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu untuk bermain game di perangkat tersebut. Dalam survei Samsung menunjukan kecenderungan untuk bermain game ini tidak hanya dilakukan orang dewasa namun juga anak-anak. Kebanyakan saat bekerja, orang tua memberikan Tablet pada anaknya agar diam.

Berangkat dari sana, mengawali tahun 2014, TechLife tertarik untuk mengulas soal "Memaksimalkan Fungsi Tablet". Tujuannya, agar khalayak publik menyadari bagaimana sebenarnya Tablet PC dimanfaatkan untuk berbagai hal, baik yang berkaitan dengan produktivitas kerja, menambah pengetahuan serta menjadi media hiburan ketika bersantai dsb.

Karena Tablet PC dirancang lebih simple dan memiliki banyak fitur serta performa semakin baik untuk melakukan berbagai kegiatan secara mobile, maka kita harus lebih cerdas memosisikannya sebagai media pendudukung dalam bisnis atau pekerjaan. Diantaranya, kaum pebisnis bisa melakukan presentasi ke klien. Fotografer dapat menampilkan dasil fotonya. Begitu pulsa dengan penjual online, bisa melakukan share info produk dan desainnya melalui jejaring sosial, blog, dsb.

Selain itu, bagi orang tua dituntut lebih bikak memberikan fasilitas bagi buah hatinya agar memberikan fungsi yang maksimal sesuai kebutuhan. Instal aplikasi-aplikasi yang memang dapat memberikan pengetahuan luas bagi perkembangan dan pendidikan anak. Juga pantau dan jangan biarkan anak hanya bermain game. Dengan buku elektronik (ebook), misalnya, biasakan anak membaca dan kita menanyakannya setiap hari atau paling tidak akhir pekan.

Masih banyak hal-hal positif yang bisa dimaksimalkan dalam mendukung berbagai kegiatan kita. Dalam kesempatan kala itu, TeenLife memfokuskan pada tuga pembahasan, yakni meningkatkan produktivitas kerja, pendidikan, dan media kreativitas. 

Sumber:
Ampas, S, Rachma, Noer, Adi. 2014. Cerdas dan Bijak Menggunakan Tablet.TechLife Indonesia 64

Pendapat:
Menurut saya, penggunaan tablet itu harus cerdas. Banyak aplikasi yang mendukung untuk pekerjaan bukan untuk "dimainkan" oleh anak-anak. Memang benar ada aplikasi games yang ditujukan untuk anak-anak, namun tidak baik memberikan kepada anak-anak sebuah gadget yang mereka sendiri belum bisa merawatnya. Saran saya, dampingi mereka dalam penggunaannya dan batasi waktunya. Selain itu unduhlah aplikasi-aplikasi yang menunjang untuk pekerjaan anda karena tablet itu sangat membantu jika Anda bijak dalam penggunaanya. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Ciri-ciri, Unsur dan Teori Organisasi

Ciri-Ciri Organisasi
  1. Organisasi harus memiliki anggota yang jelas identitas dan kuantitasnya.
  2. Organisasi harus memiliki identitas yang jelas tentang keberadaannya dalam masyarakat.
  3. Terjadi interaksi antar pemimpin atau pendiri organisasi dengan kelompok atau perorangan dalam organisasi sehingga jelas dalam pembagian tugasnya.
  4. Dikembangkan untuk mencapai tujuan. 
  5. Setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat.
  6. Dari interaksi atau aktivitas, maka timbul ide yang mentransformasikan menjadi artifak, nilai, dan asumsi.
  7. Setelah ditransformasikan, maka diimplementasikan sehingga membentuk suatu organisasi.
  8. Adanya pembelajaran (learning) kepada anggota baru dalam organisasi.
  9. Setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat.
Unsur Organisasi
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting dalam organisasi, yaitu.
  1. Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
  2. Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
  3. Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.
Teori Organisasi

Teori Organisasi Klasik 
Teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19).  Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas.

Dalam teori ini organisasi digambarkan seperti toet piano dimana masing-masing nada mempunyai spesialisasi (do.. re.. mi.. fa.. so.. la.. si..) dimana apabila tiap nada dirangkai maka akan tercipta lagu yang indah begitu juga dengan organisasi.

Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggab manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin.
            Defisi Organisasi menurut Teori Klasik:

Organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kejuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan factor-faktor lain apabila orang bekerja sama.

Teori Organisasi klasik sepenuhnya menguraikan anatomi organisasi formal. Empat unsure pokok yang selalu muncul dalam organisasi formal:
a.      Sistem kegiatan yang terkoordinasi
b.      Kelompok orang
c.       Kerjasama
d.     Kekuasaan & Kepemimpinan

       Sedangkan menurut penganut teori klasik suatu organisasi tergantung pada empat kondisi pokok: Kekuasaan, Saling melayani, Doktrin, Disiplin.
Sedangkan yang dijadikan tiang dasar penting dalam organisasi formal adalah:
a.      Pembagian kerja (untuk koordinasi)
b.      Proses Skalar & Fungsional (proses pertumbuhan vertical dan horizontal)
c.       Struktur (hubungan antar kegiatan)
d.     Rentang kendali (berapa banyak atasan bisa mengendalikan bawahan).

            Teori Klasik berkembang dalam 3 Aliran:
¨ Birokrasi: Dikembangkan dari Ilmu Sosiologi
¨Administrasi: Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.
¨ Manajemen Ilmiah: Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Mikro sebuah organisasi.
Semua teori diatas dikembangkan sekitar tahun 1900-1950. Pelopor teori ini kebanyakan dari sebuah negara berbentuk kerajaan “Mesir, Cina & Romawi”.

            Teori Birokrasi
Dikemukakan oleh “MAX WEBER” dalam buku “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism” dan “The Theory of Social and Economic Organization”.
Istilah BIROKRASI berasal dari kata LEGAL_RASIONAL:
“Legal” disebakan adanya wewenang dari seperangkat aturan prosedur dan peranan yang dirumuskan secara jelas.  Sedangkan “Rasional”  karena adanya penetapan tujuan yang ingin dicapai.
Karekteristik-karekteristik birokrasi menurut Max Weber:

            a.     Pembagian kerja
            b.   Hirarki wewenang
            c.   Program  rasional
                        d.  Sistem Prosedur                        e.  Sistem Aturan hak kewajiban
                        f.   Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal      


 
            Teori Administrasi
Teori ini dikembangkan oleh Henry Fayol, Lyndall Urwick dari Eropa  dan James D. Mooney, Allen Reily dari Amerika.

HENRY FAYOL (1841-1925): Seorang industrialis asal Perancis tahun 1916 menulis sebuah buku “Admistration industrtrielle et Generale” diterjemahkan dalam bahasa inggris 1926 dan baru dipublikasikan di amerika 1940.
14 Kaidah manjemen menurut Fayol yang menjadi dasar teori administrasi:
ª      Pembagian kerja
ª      Wewenang & tanggung jawab
ª      Disiplin
ª      Kesatuan perintah
ª      Kesatuan pengarahan
ª      Mendahulukan kepentingan umum
ª      Balas jasa
ª      Sentralisasi
ª      Rantai Skalar
ª      Aturan
ª      Keadilan
ª      Kelanggengan personalia
ª      Inisiatif
ª      Semangat korps

Fayol membagi kegiatan industri menjadi 6 kelompok:
§        Kegiatan Teknikal (Produksi, Manufaktur, Adaptasi)
§        Kegiatan Komersil (Pembelian, Penjualan, Pertukaran)
§        Kegiatan Financial (penggunaan optimum modal)
§        Kegiatan Keamanan
§        Kegiatan Akuntansi
§        Kegiatan Manajerial atau “FAYOL’s FUNCTIONALISM” yaitu:
a.      Perencanaan
b.      Pengorganisasian
c.       Pemberian perintah
d.     Pengkoordinasian
e.      Pengawasan

JAMES D. MOONEY & ALLEN REILLY :1931 
 Menerbitkan sebuah buku “ONWARD INDUSTRY” inti dari pendapat mereka adalah “koordinasi merupakan factor terpenting dalam perencanaan organisasi”. Tiga prinsip yang harus diterapkan dalam sebuah organisasi menurut mereka adalah:
a.      Prinsip Koordinasi
b.      Prinsip Skalar & Hirarkis
c.       Prinsip Fungsional

 
            Manajemen Ilmiah
Dikembangkan tahun 1900 oleh FREDERICK WINSLOW TAYLOR).  Definisi Manajemen Ilmiah:
“Penerapan metode ilmiah pada studi, analisa dan pemecahan masalah organisasi” atau “Seperangkat mekanisme untuk meningkatkan efesiensi kerja”.

F.W. TAYLOR menuangkan ide dalam tiga makalah: “Shop Management”, “The Principle Oif Scientific Management” dan “Testimony before the Special House Comitte”.  Dari tiga makalah tersebut lahir sebuah buku “Scientific Management”. 

Berkat jasa-jasa yang sampai sekarang konsepnya masih dipergunakan pada praktek manajemen modern maka F.W. TAYLOR dijuluki sebagai “BAPAK MANAJEMEN ILMIAH”.

Empat kaidah Manajemen menurut Frederick W. Taylor:
a.      Menggantikan metode kerja dalam praktek dengan metode atas dasar ilmu pengetahuan.
b.      Mengadakan seleksi, latihan dan pengembangan karyawan
c.       Pengembangan ilmu tentang kerja, seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah perlu intregasikan.
        d.     Perlu dikembangkan semangat dan mental karyawan untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah.


         Teori Nonklasik
         Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut juga dengan “Teori   Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada  “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”.

HUGO MUNSTERBERG

Salah tokoh neoklasik pencetus “Psikologi Industri”. Hugo menulis sebuah buku “Psychology and Industrial Effeciency” tahun 1913. Buku tersebut merupakan jembatan antara manajemen ilmiah dan neoklasik. Inti dari pandangan Hugo adalah menekankan adanya perbedaan karekteristik individu dalam organisasi dan mengingatkan adannya pengaruh factor social dan budaya terhadap organisasi.

Munculnya teori neoklasik diawali dengan inspirasi percobaan yang dilakukan di Pabrik Howthorne tahun 1924 milik perusahaan Western Elektric di Cicero yang disponsori oleh Lembaga Riset Nasional Amerika. Percobaan yang dilakukan ELTON MAYO seorang riset dari Western Electric menyimpulkan bahwa pentingnya memperhatikan insentif upah dan Kondisi kerja karyawan dipandang sebagai factor penting peningkatan produktifitas.

Dalam pembagian kerja  Neoklasik memandang perlunya:
a.      Partisipasi
b.      Perluasan kerja
c.       Manajemen bottom_up


      Teori Modern
Teori ini muncul pada tahun 1950 sebagai akibat ketidakpuasan dua teori sebelumnya yaitu klasik dan neoklasik. Teori Modern sering disebut dengan teori “Analiasa Sistem” atau “Teori Terbuka” yang memadukan antara teori klasik dan neokalsi. Teori Organisasi Modern melihat bahwa semua unsure organisasi sebagai satu kesatuan  yang saling bergantung dan tidak bisa dipisahkan. Organisasi bukan system tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil akan tetapi organisasi merupakan system terbuka yang berkaitan dengan lingkunngan dan apabila ingin survivel atau dapat bertahan hidup maka ia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Teori Modern VS Teori Klasik
a.      Teori Klasik memusatkan pandangan pada analisa dan deskripsi organisasi sedangkan Teori Modern menekankan pada perpaduan & perancangan sehingga terlihat lebih menyeluruh.
b.      Teori Klasik membicarakan konsep koordinasi, scalar, dan vertical sedangkan Teori Modern lebih dinamis, sangat komplek, multilevel, multidimensi dan banyak variable yang dipertimbangkan.





Referensi:
https://www.facebook.com/HimpunanPengurusOrganisasiSiswaAntarSekolah/posts/
http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi#Unsur-unsur
panel.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/view/17039/17003
s_tiwi.staff.gunadarma.ac.id/.../files/.../MINGGU_3.do. 









 




















 
 
 

Kamis, 02 Oktober 2014

MDGS 2025



Millenium Development Goals (MDGs) adalah hasil kesepakatan 189 kepala Negara dan pemerintahan pada pertemuan United Nations Millenium Declaration tahun 2000 yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat di seluruh dunia. Telah dilakukan revisi pada tahun 2005 dengan 8 target yang harus diupayakan terjadi perubahan yang berarti pada tahun 2015.
MDG 1: Membasmi kemiskinan dan kelaparan

MDG 2: Pencapaian pendidikan dasar yang universal

MDG 3: Mempromosikan kesetaraann gender dan pemberdayaan perempuan

MDG 4: Mengurangi Angka Kematian Bayi dan Anak

MDG 5: Memperbaiki kualitas kesehatan maternal

MDG 6: Membasmi penyakit HIV AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya.

MDG 7: Perbaikan lingkungan yang terus menerus
MDG 8: Kerjasama global untuk pengembangan

Pada Oktober 2015, target waktu pencapaian delapan poin Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) akan berakhir. Kini, segala sesuatu harus dilakukan dengan segera dan cepat dalam kaitan dengan pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, akses terhadap pendidikan dasar dan perbaikan kesehatan, serta pelestarian lingkungan hidup dan kerja sama global.

Salah satu target terpenting MDGs adalah memangkas jumlah orang miskin menjadi tinggal separuh jumlah yang tercatat pada 1990. Saat itu, persentase jumlah orang miskin mencapai angka 43 persen. Kita patut bersyukur bahwa secara global, target tersebut telah tercapai pada 2010, saat jumlah orang miskin berkurang menjadi 21 persen, sekitar 50 persen dari jumlah pada 1990.

Meski demikian, jumlah tersebut masih terbilang besar. Betapa tidak? Dengan menggunakan angka US$ 1,25 per hari sebagai batas kemiskinan, tercatat hampir 1,2 miliar warga dunia masih berkutat dalam kemiskinan, termasuk 400 juta anak yang masih hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem (data Bank Dunia pada 2013). Apalagi, penyebab pengurangan kemiskinan global terutama adalah perkembangan positif di Asia, khususnya Cina. Di negara itu, selama dua dekade terakhir, ratusan juta orang mengalami peningkatan  kesejahteraan sosial-ekonomi.

Sementara itu, gambar positif pengurangan kemiskinan berubah menjadi negatif ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa fenomena kelaparan di dunia semakin luas. Saat ini, sekitar 1 miliar penduduk dunia mengalami kekurangan makanan, meningkat sekitar 2 persen dibandingkan pada 1990. Artinya, target penurunan tingkat kelaparan hingga 50 persen diprediksi tidak akan tercapai.

Beberapa target MDGs lainnya juga belum menunjukkan perkembangan yang membesarkan hati. Janji negara-negara kaya untuk memberikan hibah 0,7 persen dari PDB-nya untuk pencapaian MDGs di negara-negara miskin hanya ditepati oleh beberapa negara Eropa. Angka kematian ibu, penyebaran HIV/AIDS dan malaria, pelestarian hutan, serta akses air bersih dan sanitasi masih jauh dari harapan.

Bagaimana dengan pencapaian MDGs Indonesia?

BPS mengukur garis kemiskinan dengan penghasilan Rp 300 ribu per orang per bulan untuk penduduk perkotaan dan Rp 250 ribu per orang per bulan untuk penduduk desa. Pengukuran itu sama dengan US$ 1,5-1,6 per orang per bulan dengan patokan kurs, sementara acuan internasional menggunakan patokan tarif pasar. Berdasarkan indikator tersebut, angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2014 mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,25 persen dari jumlah total penduduk. Dibanding pada September 2013, telah terjadi penurunan jumlah orang miskin dari 11,46 persen menjadi 11,25 persen.

Meski demikian, pada saat yang sama, terjadi kenaikan indeks kedalaman kemiskinan dari 1,75 persen menjadi 1,89 persen. Begitu pula dengan indeks keparahan kemiskinan, yang naik dari 0,43 persen menjadi 0,48 persen (BPS, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia semakin parah karena menjauhi garis kemiskinan, sementara ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin melebar.

Ada tiga hal yang diyakini bisa mengatasi akar masalah kemiskinan dan kelaparan (MDGs 1-2) di Indonesia, yakni memprioritaskan perluasan kesempatan kerja, meningkatkan kualitas infrastruktur pendukung, dan menguatkan sektor pertanian.

Ihwal pendidikan dasar dan kemelekhurufan, Indonesia tercatat telah mencapai target minimal MDGs, yaitu akses bagi semua anak usia sekolah untuk mengecap pendidikan wajib 6 tahun. Bahkan, lebih dari itu, negeri ini menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal.

Meski demikian, tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDGs pendidikan adalah meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk memperoleh pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen-30 persen untuk Aceh dan Papua-dari jumlah anggaran nasional diharapkan berlanjut untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal.

Menjelang berakhirnya time frame pencapaian target MDGs pada 2015, komunitas internasional di bawah PBB mulai mendiskusikan perumusan agenda pembangunan global setelah 2015. Ihwal upaya memformulasi post-2015 development agenda, Indonesia mendukung tersusunnya roadmap bagi intergovernmental process guna menyusun agenda pembangunan setelah 2015 dan berpandangan bahwa agenda dimaksudkan harus dibangun berdasarkan lessons learned (pembelajaran) dan best practices (praktek-praktek terbaik) dalam pelaksanaan MDGs.



Pendapat saya:

MDGS ini telah dirancang dari tahun 2000. Ini menunjukan bahwa banyak negara ingin mengalami perubahan yang lebih baik dari sebelumnya seperti Indonesia.

Saya ingin menanggapi MDGS 2 yaitu Pencapaian Pendidikan Dasar yang Universal. Pemerintah telah melakukan banyak upaya agar Indonesia tidak “miskin” dalam pendidikan. Banyak bantuan yang telah diberikan contoh BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Walaupun biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah, namun ada biaya-biaya lain yang masih ditarik oleh sekolah. Beruntung yang bersekolah di Jakarta karena ada kartu Jakarta Pintar. Namun di daerah-daerah lain, masih banyak yang kesulitan untuk mengenyam pendidikan. Meskipun target yang diberikan MDGS sampai sekolah dasar, namun pemerintah mewajibkan sembilan (9) tahun wajib belajar hingga SMP.
Selain biaya, kurikulum yang sering berubah-ubah juga menjadi faktor penentu. Mungkin pemerintah menganggap itu yang terbaik bagi para siswa, sedangkan fakta di lapangan belum menunjukan hal yang lebih baik. Contohnya saja kurikulum 2013, di tingkat sekolah dasar ada beberapa pelajaran yang dihilangkan, tingkat SMA, langsung memasuki penjurusan IPA atau IPS yang biasanya ditentukan saat kelas XI. Selain itu, para guru diwajibkan untuk mengajar dengan bahasa Inggris, yang belum tentu semua guru bisa melakukan hal tersebut. Meskipun ada hal positif, yaitu menambah jam belajar siswa. Namun bagi saya, itu percuma saja, karena sarana dan prasarana tiap sekolah berbeda, sehingga itu hanya membuat siswa lelah karena hanya mengalami sedikit perubahan.

Selain itu di tingkat Perguruan Tinggi, biaya kuliah yang setiap tahun selalu naik. Indonesia telah menyatakan bahwa mendapatkan pedidikan adalah “HAK” setiap warga negara. Namun pemerintah belum bisa menngani biaya pendidikan, dan terkadang sarana kampus pun masih banyak yang kurang. Seharusnya pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam menangani keuangan untuk pendidikan di Indonesia sehingga harga yang dibayar bisa seimbang dengan apa yang diterima oleh mahasiswa.
Kemudian hasil penelitian yang telah dikembangkan, bisa didukung sehingga hasil karya anak bangsa jangan selalu diberikan kepada negara lain tapi didukung terus supaya Indonesia menjadi lebih maju, tidak hanya di perkotaan tetapi sampai ke desa-desa. Lewat teknologi yang terus dikembangkan, diharapkan juga bisa membantu untuk bidang-bidang lagi yang ada dalam MDGS seperti kesehatan terutama angka kematian ibu dan bayi, kelaparan, penyakit,dll.

Selain itu pelestarian lingkungan juga menjadi hal yang patut diperhatikan mengingat masalah Global Warming yang semakin parah. Diharapkan banyak negara-negara yang menghasilkan oksigen terbanyak seperti Indonesia terus berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Pemerintah juga harus tegas terhadap para penebang liar yang ingin menguasai kehutanan negara kita.

Selain itu masalah kesehatan yang membuat MDGS ini mengalami kemuduran dari tahun 2015 menjadi 2025. Hal ini disebabkan kurangnya kontribusi dari pemerintah daerah terhadap program yang diadakan yaitu BKKBN.

Kesimpulannya yaitu apa yang diprogramkan negara, wajib kita dukung karena masa depan ada di tangan kita. Pemerintah sekarang hanya memfasilitasi saja, tapi ke depannya, Indonesia ada di tangan kita. Dan untuk pemerintah yang baru, program yang baik yang telah dilaksanakan harus dilanjutkan dengan inovasi-inovasi yang baru. Jangan buat negara ini yang telah mengalami kemajuan, malah mundur kembali. Dukunglah perkembangan-perkembangan yang positif sehingga kami anak-anak bangsa bisa semangat dalam mengerjakan tugas kami.