Tablet PC semakin populer. Bukan hanya di kalangan dewasa dan orang tua, anak usia dini pun sekarang sudah mulai banyak menggunakan. Bisa kita lihat di sekitar atau tetangga kita yang rentang usianya antara 4-7 tahun, kebanyakan sudah dibelikan tablet oleh orang tuanya.
Kondisu tersebut memperlihatkan bahwa penetrasi pasar Tablet PC sungguh luar biasa. Wajar bila Indonesia lalu disinyalir sebagai bangsa terbesar pasar Tablet PC.
Sayangnya, saat ini tablet sebagian besar digunakan untuk hiburan seperti bermain game dan menonton video saja. Menurut survei yang dilakukan oleh perusahaan teknologi dan riset, Gartner mengungkapkan bahwa orang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton film, mendengarkan musik, dan bermain games di Tablet.
Senada dengan Gartner, survei yang dilakukan oleh Google AdMob pada lebih dari 1,400 pemilik Tablet di AS disebutkan bahwa 84 persen dari pemiliknya lebih menyukai aktivitas bermain game dibandingkan mencari info atau browsing.
Sama seperti di Amerika, masyarakat kita pun "doyan" menggunakan Tablet untuk bermain game. Hal ini dibuktikan oleh survei yang dilakukan Samsung Indonesia beberapa waktu lalu. Dalam survei tersebut memperlihatkan di Indonesia kebanyakan Tablet digunakan untuk bermain game.
Namun fenomena yang menyedihkan justru orang tua membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu untuk bermain game di perangkat tersebut. Dalam survei Samsung menunjukan kecenderungan untuk bermain game ini tidak hanya dilakukan orang dewasa namun juga anak-anak. Kebanyakan saat bekerja, orang tua memberikan Tablet pada anaknya agar diam.
Berangkat dari sana, mengawali tahun 2014, TechLife tertarik untuk mengulas soal "Memaksimalkan Fungsi Tablet". Tujuannya, agar khalayak publik menyadari bagaimana sebenarnya Tablet PC dimanfaatkan untuk berbagai hal, baik yang berkaitan dengan produktivitas kerja, menambah pengetahuan serta menjadi media hiburan ketika bersantai dsb.
Karena Tablet PC dirancang lebih simple dan memiliki banyak fitur serta performa semakin baik untuk melakukan berbagai kegiatan secara mobile, maka kita harus lebih cerdas memosisikannya sebagai media pendudukung dalam bisnis atau pekerjaan. Diantaranya, kaum pebisnis bisa melakukan presentasi ke klien. Fotografer dapat menampilkan dasil fotonya. Begitu pulsa dengan penjual online, bisa melakukan share info produk dan desainnya melalui jejaring sosial, blog, dsb.
Selain itu, bagi orang tua dituntut lebih bikak memberikan fasilitas bagi buah hatinya agar memberikan fungsi yang maksimal sesuai kebutuhan. Instal aplikasi-aplikasi yang memang dapat memberikan pengetahuan luas bagi perkembangan dan pendidikan anak. Juga pantau dan jangan biarkan anak hanya bermain game. Dengan buku elektronik (ebook), misalnya, biasakan anak membaca dan kita menanyakannya setiap hari atau paling tidak akhir pekan.
Masih banyak hal-hal positif yang bisa dimaksimalkan dalam mendukung berbagai kegiatan kita. Dalam kesempatan kala itu, TeenLife memfokuskan pada tuga pembahasan, yakni meningkatkan produktivitas kerja, pendidikan, dan media kreativitas.
Sumber:
Ampas, S, Rachma, Noer, Adi. 2014. Cerdas dan Bijak Menggunakan Tablet.TechLife Indonesia 64
Pendapat:
Menurut saya, penggunaan tablet itu harus cerdas. Banyak aplikasi yang mendukung untuk pekerjaan bukan untuk "dimainkan" oleh anak-anak. Memang benar ada aplikasi games yang ditujukan untuk anak-anak, namun tidak baik memberikan kepada anak-anak sebuah gadget yang mereka sendiri belum bisa merawatnya. Saran saya, dampingi mereka dalam penggunaannya dan batasi waktunya. Selain itu unduhlah aplikasi-aplikasi yang menunjang untuk pekerjaan anda karena tablet itu sangat membantu jika Anda bijak dalam penggunaanya.
Gambar
Minggu, 12 Oktober 2014
Sabtu, 11 Oktober 2014
Ciri-ciri, Unsur dan Teori Organisasi
Ciri-Ciri Organisasi
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting dalam organisasi, yaitu.
Teori Organisasi Klasik
Teori Birokrasi
f. Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal
Teori Nonklasik
Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut juga dengan “Teori Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”.
- Organisasi harus memiliki anggota yang jelas identitas dan kuantitasnya.
- Organisasi harus memiliki identitas yang jelas tentang keberadaannya dalam masyarakat.
- Terjadi interaksi antar pemimpin atau pendiri organisasi dengan kelompok atau perorangan dalam organisasi sehingga jelas dalam pembagian tugasnya.
- Dikembangkan
untuk mencapai tujuan.
- Setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat.
- Dari interaksi atau aktivitas, maka timbul ide yang mentransformasikan menjadi artifak, nilai, dan asumsi.
- Setelah ditransformasikan, maka diimplementasikan sehingga membentuk suatu organisasi.
- Adanya pembelajaran (learning) kepada anggota baru dalam organisasi.
- Setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat.
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting dalam organisasi, yaitu.
- Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
- Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
- Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.
Teori Organisasi Klasik
Teori ini biasa
disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang
mulai 1800-an (abad 19). Dalam teori ini
organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnnya terspesialisasi
serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung
kreatifitas.
Dalam teori ini
organisasi digambarkan seperti toet piano dimana masing-masing nada mempunyai
spesialisasi (do.. re.. mi.. fa.. so.. la.. si..) dimana apabila tiap nada
dirangkai maka akan tercipta lagu yang indah begitu juga dengan organisasi.
Dikatakan teori mesin
karena organisasi ini menganggab manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap
saat bisa dipasang dan digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin.
Defisi Organisasi menurut Teori
Klasik:
Organisasi merupakan
struktur hubungan, kekuasaan-kejuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan,
kegiatan-kegiatan, komunikasi dan factor-faktor lain apabila orang bekerja
sama.
Teori Organisasi
klasik sepenuhnya menguraikan anatomi organisasi formal. Empat unsure pokok
yang selalu muncul dalam organisasi formal:
a. Sistem kegiatan yang terkoordinasi
b. Kelompok orang
c. Kerjasama
d. Kekuasaan & Kepemimpinan
Sedangkan menurut
penganut teori klasik suatu organisasi tergantung pada empat kondisi pokok: Kekuasaan,
Saling melayani, Doktrin, Disiplin.
Sedangkan yang
dijadikan tiang dasar penting dalam organisasi formal adalah:
a. Pembagian kerja (untuk koordinasi)
b. Proses Skalar & Fungsional
(proses pertumbuhan vertical dan horizontal)
c. Struktur (hubungan antar kegiatan)
d. Rentang kendali (berapa banyak
atasan bisa mengendalikan bawahan).
Teori Klasik berkembang dalam 3
Aliran:
¨ Birokrasi: Dikembangkan dari Ilmu Sosiologi
¨Administrasi: Langsung dari praktek manajemen
memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.
¨ Manajemen Ilmiah: Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Mikro sebuah
organisasi.
Semua teori diatas
dikembangkan sekitar tahun 1900-1950. Pelopor teori ini kebanyakan dari sebuah
negara berbentuk kerajaan “Mesir, Cina & Romawi”.
Dikemukakan oleh “MAX WEBER” dalam
buku “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism” dan “The Theory of Social
and Economic Organization”.
Istilah BIROKRASI berasal dari kata
LEGAL_RASIONAL:
“Legal” disebakan adanya wewenang
dari seperangkat aturan prosedur dan peranan yang dirumuskan secara jelas. Sedangkan “Rasional” karena adanya penetapan tujuan yang ingin
dicapai.
Karekteristik-karekteristik
birokrasi menurut Max Weber:
a.
Pembagian
kerja
b. Hirarki
wewenang
c. Program rasional
d. Sistem
Prosedur e. Sistem
Aturan hak kewajibanf. Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal
Teori Administrasi
Teori ini dikembangkan oleh Henry
Fayol, Lyndall Urwick dari Eropa dan
James D. Mooney, Allen Reily dari Amerika.
HENRY FAYOL (1841-1925): Seorang industrialis
asal Perancis tahun 1916 menulis sebuah buku “Admistration industrtrielle et
Generale” diterjemahkan dalam bahasa inggris 1926 dan baru dipublikasikan di
amerika 1940.
14 Kaidah manjemen menurut Fayol
yang menjadi dasar teori administrasi:
ª
Pembagian
kerja
ª
Wewenang
& tanggung jawab
ª
Disiplin
ª
Kesatuan
perintah
ª
Kesatuan
pengarahan
ª
Mendahulukan
kepentingan umum
ª
Balas
jasa
ª
Sentralisasi
ª
Rantai
Skalar
ª
Aturan
ª
Keadilan
ª
Kelanggengan
personalia
ª
Inisiatif
ª
Semangat
korps
Fayol membagi kegiatan industri
menjadi 6 kelompok:
§
Kegiatan
Teknikal (Produksi, Manufaktur, Adaptasi)
§
Kegiatan
Komersil (Pembelian, Penjualan, Pertukaran)
§
Kegiatan
Financial (penggunaan optimum modal)
§
Kegiatan
Keamanan
§
Kegiatan
Akuntansi
§
Kegiatan
Manajerial atau “FAYOL’s FUNCTIONALISM” yaitu:
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pemberian perintah
d. Pengkoordinasian
e. Pengawasan
JAMES D. MOONEY & ALLEN REILLY
:1931
Menerbitkan
sebuah buku “ONWARD INDUSTRY” inti dari pendapat mereka adalah “koordinasi
merupakan factor terpenting dalam perencanaan organisasi”. Tiga prinsip yang
harus diterapkan dalam sebuah organisasi menurut mereka adalah:
a. Prinsip Koordinasi
b. Prinsip Skalar & Hirarkis
c. Prinsip Fungsional
Manajemen Ilmiah
Dikembangkan tahun 1900 oleh
FREDERICK WINSLOW TAYLOR). Definisi
Manajemen Ilmiah:
“Penerapan metode ilmiah pada studi,
analisa dan pemecahan masalah organisasi” atau “Seperangkat mekanisme untuk
meningkatkan efesiensi kerja”.
F.W. TAYLOR menuangkan ide dalam
tiga makalah: “Shop Management”, “The Principle Oif Scientific Management” dan
“Testimony before the Special House Comitte”.
Dari tiga makalah tersebut lahir sebuah buku “Scientific
Management”.
Berkat jasa-jasa yang sampai
sekarang konsepnya masih dipergunakan pada praktek manajemen modern maka F.W.
TAYLOR dijuluki sebagai “BAPAK MANAJEMEN ILMIAH”.
Empat kaidah Manajemen menurut
Frederick W. Taylor:
a. Menggantikan metode kerja dalam
praktek dengan metode atas dasar ilmu pengetahuan.
b. Mengadakan seleksi, latihan dan
pengembangan karyawan
c. Pengembangan ilmu tentang kerja,
seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah perlu intregasikan.
d. Perlu dikembangkan semangat dan
mental karyawan untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah.
Teori Nonklasik
Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut juga dengan “Teori Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”.
HUGO MUNSTERBERG
Salah tokoh neoklasik pencetus
“Psikologi Industri”. Hugo menulis sebuah buku “Psychology and Industrial
Effeciency” tahun 1913. Buku tersebut merupakan jembatan antara manajemen
ilmiah dan neoklasik. Inti dari pandangan Hugo adalah menekankan adanya perbedaan
karekteristik individu dalam organisasi dan mengingatkan adannya pengaruh
factor social dan budaya terhadap organisasi.
Munculnya teori neoklasik diawali
dengan inspirasi percobaan yang dilakukan di Pabrik Howthorne tahun 1924 milik
perusahaan Western Elektric di Cicero yang disponsori oleh Lembaga Riset
Nasional Amerika. Percobaan yang dilakukan ELTON MAYO seorang riset dari
Western Electric menyimpulkan bahwa pentingnya memperhatikan insentif upah dan
Kondisi kerja karyawan dipandang sebagai factor penting peningkatan
produktifitas.
Dalam pembagian kerja Neoklasik memandang perlunya:
a. Partisipasi
b. Perluasan kerja
c. Manajemen bottom_up
Teori Modern
Teori ini muncul pada tahun 1950
sebagai akibat ketidakpuasan dua teori sebelumnya yaitu klasik dan neoklasik.
Teori Modern sering disebut dengan teori “Analiasa Sistem” atau “Teori Terbuka”
yang memadukan antara teori klasik dan neokalsi. Teori Organisasi Modern
melihat bahwa semua unsure organisasi sebagai satu kesatuan yang saling bergantung dan tidak bisa
dipisahkan. Organisasi bukan system tertutup yang berkaitan dengan lingkungan
yang stabil akan tetapi organisasi merupakan system terbuka yang berkaitan
dengan lingkunngan dan apabila ingin survivel atau dapat bertahan hidup maka ia
harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Teori Modern VS Teori Klasik
a. Teori Klasik memusatkan pandangan
pada analisa dan deskripsi organisasi sedangkan Teori Modern menekankan pada
perpaduan & perancangan sehingga terlihat lebih menyeluruh.
b. Teori Klasik membicarakan konsep koordinasi,
scalar, dan vertical sedangkan Teori Modern lebih dinamis, sangat komplek,
multilevel, multidimensi dan banyak variable yang dipertimbangkan.
Referensi:
https://www.facebook.com/HimpunanPengurusOrganisasiSiswaAntarSekolah/posts/
http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi#Unsur-unsur
panel.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/view/17039/17003
s_tiwi.staff.gunadarma.ac.id/.../files/.../MINGGU_3.do.
Kamis, 02 Oktober 2014
MDGS 2025
Millenium
Development Goals (MDGs) adalah hasil kesepakatan 189 kepala Negara dan
pemerintahan pada pertemuan United Nations Millenium Declaration tahun 2000
yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat di seluruh dunia. Telah dilakukan
revisi pada tahun 2005 dengan 8 target yang harus diupayakan terjadi perubahan
yang berarti pada tahun 2015.
MDG 1: Membasmi kemiskinan dan
kelaparan
MDG 2: Pencapaian pendidikan dasar yang universal
MDG 3: Mempromosikan kesetaraann gender dan pemberdayaan perempuan
MDG 4: Mengurangi Angka Kematian Bayi dan Anak
MDG 5: Memperbaiki kualitas kesehatan maternal
MDG 6: Membasmi penyakit HIV AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya.
MDG 7: Perbaikan lingkungan yang terus menerus
MDG 2: Pencapaian pendidikan dasar yang universal
MDG 3: Mempromosikan kesetaraann gender dan pemberdayaan perempuan
MDG 4: Mengurangi Angka Kematian Bayi dan Anak
MDG 5: Memperbaiki kualitas kesehatan maternal
MDG 6: Membasmi penyakit HIV AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya.
MDG 7: Perbaikan lingkungan yang terus menerus
MDG 8:
Kerjasama global untuk pengembangan
Pada Oktober 2015, target waktu pencapaian delapan poin Tujuan
Pembangunan Milenium (MDGs) akan berakhir. Kini, segala sesuatu harus dilakukan
dengan segera dan cepat dalam kaitan dengan pemberantasan kemiskinan dan
kelaparan, akses terhadap pendidikan dasar dan perbaikan kesehatan, serta
pelestarian lingkungan hidup dan kerja sama global.
Salah satu target terpenting MDGs adalah memangkas jumlah orang miskin menjadi tinggal separuh jumlah yang tercatat pada 1990. Saat itu, persentase jumlah orang miskin mencapai angka 43 persen. Kita patut bersyukur bahwa secara global, target tersebut telah tercapai pada 2010, saat jumlah orang miskin berkurang menjadi 21 persen, sekitar 50 persen dari jumlah pada 1990.
Meski demikian, jumlah tersebut masih terbilang besar. Betapa tidak? Dengan menggunakan angka US$ 1,25 per hari sebagai batas kemiskinan, tercatat hampir 1,2 miliar warga dunia masih berkutat dalam kemiskinan, termasuk 400 juta anak yang masih hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem (data Bank Dunia pada 2013). Apalagi, penyebab pengurangan kemiskinan global terutama adalah perkembangan positif di Asia, khususnya Cina. Di negara itu, selama dua dekade terakhir, ratusan juta orang mengalami peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi.
Sementara itu, gambar positif pengurangan kemiskinan berubah menjadi negatif ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa fenomena kelaparan di dunia semakin luas. Saat ini, sekitar 1 miliar penduduk dunia mengalami kekurangan makanan, meningkat sekitar 2 persen dibandingkan pada 1990. Artinya, target penurunan tingkat kelaparan hingga 50 persen diprediksi tidak akan tercapai.
Beberapa target MDGs lainnya juga belum menunjukkan perkembangan yang membesarkan hati. Janji negara-negara kaya untuk memberikan hibah 0,7 persen dari PDB-nya untuk pencapaian MDGs di negara-negara miskin hanya ditepati oleh beberapa negara Eropa. Angka kematian ibu, penyebaran HIV/AIDS dan malaria, pelestarian hutan, serta akses air bersih dan sanitasi masih jauh dari harapan.
Salah satu target terpenting MDGs adalah memangkas jumlah orang miskin menjadi tinggal separuh jumlah yang tercatat pada 1990. Saat itu, persentase jumlah orang miskin mencapai angka 43 persen. Kita patut bersyukur bahwa secara global, target tersebut telah tercapai pada 2010, saat jumlah orang miskin berkurang menjadi 21 persen, sekitar 50 persen dari jumlah pada 1990.
Meski demikian, jumlah tersebut masih terbilang besar. Betapa tidak? Dengan menggunakan angka US$ 1,25 per hari sebagai batas kemiskinan, tercatat hampir 1,2 miliar warga dunia masih berkutat dalam kemiskinan, termasuk 400 juta anak yang masih hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem (data Bank Dunia pada 2013). Apalagi, penyebab pengurangan kemiskinan global terutama adalah perkembangan positif di Asia, khususnya Cina. Di negara itu, selama dua dekade terakhir, ratusan juta orang mengalami peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi.
Sementara itu, gambar positif pengurangan kemiskinan berubah menjadi negatif ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa fenomena kelaparan di dunia semakin luas. Saat ini, sekitar 1 miliar penduduk dunia mengalami kekurangan makanan, meningkat sekitar 2 persen dibandingkan pada 1990. Artinya, target penurunan tingkat kelaparan hingga 50 persen diprediksi tidak akan tercapai.
Beberapa target MDGs lainnya juga belum menunjukkan perkembangan yang membesarkan hati. Janji negara-negara kaya untuk memberikan hibah 0,7 persen dari PDB-nya untuk pencapaian MDGs di negara-negara miskin hanya ditepati oleh beberapa negara Eropa. Angka kematian ibu, penyebaran HIV/AIDS dan malaria, pelestarian hutan, serta akses air bersih dan sanitasi masih jauh dari harapan.
Bagaimana dengan pencapaian MDGs Indonesia?
BPS mengukur garis kemiskinan dengan penghasilan Rp 300 ribu per orang per bulan untuk penduduk perkotaan dan Rp 250 ribu per orang per bulan untuk penduduk desa. Pengukuran itu sama dengan US$ 1,5-1,6 per orang per bulan dengan patokan kurs, sementara acuan internasional menggunakan patokan tarif pasar. Berdasarkan indikator tersebut, angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2014 mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,25 persen dari jumlah total penduduk. Dibanding pada September 2013, telah terjadi penurunan jumlah orang miskin dari 11,46 persen menjadi 11,25 persen.
Meski demikian, pada saat yang sama, terjadi kenaikan indeks kedalaman kemiskinan dari 1,75 persen menjadi 1,89 persen. Begitu pula dengan indeks keparahan kemiskinan, yang naik dari 0,43 persen menjadi 0,48 persen (BPS, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia semakin parah karena menjauhi garis kemiskinan, sementara ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin melebar.
Ada tiga hal yang diyakini bisa mengatasi akar masalah kemiskinan dan kelaparan (MDGs 1-2) di Indonesia, yakni memprioritaskan perluasan kesempatan kerja, meningkatkan kualitas infrastruktur pendukung, dan menguatkan sektor pertanian.
Ihwal pendidikan dasar dan kemelekhurufan, Indonesia tercatat telah mencapai target minimal MDGs, yaitu akses bagi semua anak usia sekolah untuk mengecap pendidikan wajib 6 tahun. Bahkan, lebih dari itu, negeri ini menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal.
Meski demikian, tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDGs pendidikan adalah meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk memperoleh pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen-30 persen untuk Aceh dan Papua-dari jumlah anggaran nasional diharapkan berlanjut untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal.
Menjelang berakhirnya time frame pencapaian target MDGs pada 2015, komunitas internasional di bawah PBB mulai mendiskusikan perumusan agenda pembangunan global setelah 2015. Ihwal upaya memformulasi post-2015 development agenda, Indonesia mendukung tersusunnya roadmap bagi intergovernmental process guna menyusun agenda pembangunan setelah 2015 dan berpandangan bahwa agenda dimaksudkan harus dibangun berdasarkan lessons learned (pembelajaran) dan best practices (praktek-praktek terbaik) dalam pelaksanaan MDGs.
BPS mengukur garis kemiskinan dengan penghasilan Rp 300 ribu per orang per bulan untuk penduduk perkotaan dan Rp 250 ribu per orang per bulan untuk penduduk desa. Pengukuran itu sama dengan US$ 1,5-1,6 per orang per bulan dengan patokan kurs, sementara acuan internasional menggunakan patokan tarif pasar. Berdasarkan indikator tersebut, angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2014 mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,25 persen dari jumlah total penduduk. Dibanding pada September 2013, telah terjadi penurunan jumlah orang miskin dari 11,46 persen menjadi 11,25 persen.
Meski demikian, pada saat yang sama, terjadi kenaikan indeks kedalaman kemiskinan dari 1,75 persen menjadi 1,89 persen. Begitu pula dengan indeks keparahan kemiskinan, yang naik dari 0,43 persen menjadi 0,48 persen (BPS, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia semakin parah karena menjauhi garis kemiskinan, sementara ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin melebar.
Ada tiga hal yang diyakini bisa mengatasi akar masalah kemiskinan dan kelaparan (MDGs 1-2) di Indonesia, yakni memprioritaskan perluasan kesempatan kerja, meningkatkan kualitas infrastruktur pendukung, dan menguatkan sektor pertanian.
Ihwal pendidikan dasar dan kemelekhurufan, Indonesia tercatat telah mencapai target minimal MDGs, yaitu akses bagi semua anak usia sekolah untuk mengecap pendidikan wajib 6 tahun. Bahkan, lebih dari itu, negeri ini menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal.
Meski demikian, tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDGs pendidikan adalah meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk memperoleh pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen-30 persen untuk Aceh dan Papua-dari jumlah anggaran nasional diharapkan berlanjut untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal.
Menjelang berakhirnya time frame pencapaian target MDGs pada 2015, komunitas internasional di bawah PBB mulai mendiskusikan perumusan agenda pembangunan global setelah 2015. Ihwal upaya memformulasi post-2015 development agenda, Indonesia mendukung tersusunnya roadmap bagi intergovernmental process guna menyusun agenda pembangunan setelah 2015 dan berpandangan bahwa agenda dimaksudkan harus dibangun berdasarkan lessons learned (pembelajaran) dan best practices (praktek-praktek terbaik) dalam pelaksanaan MDGs.
(sumber: https://www.tempo.co/read/kolom/2014/10/02/1685/Capaian-MDGs-Kita;
http://www.perinasia.com/post/112?title=Analisis+Epidemiologis+Terkini++Millenium+Development+Goals+%28MGDs%29%3A+MDGs+4+dan+MDGs+5+di+Indonesia
)
Pendapat
saya:
MDGS ini
telah dirancang dari tahun 2000. Ini menunjukan bahwa banyak negara ingin
mengalami perubahan yang lebih baik dari sebelumnya seperti Indonesia.
Saya ingin
menanggapi MDGS 2 yaitu Pencapaian Pendidikan Dasar yang Universal.
Pemerintah telah melakukan banyak upaya agar Indonesia tidak “miskin” dalam
pendidikan. Banyak bantuan yang telah diberikan contoh BOS (Bantuan Operasional
Sekolah). Walaupun biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah, namun ada
biaya-biaya lain yang masih ditarik oleh sekolah. Beruntung yang bersekolah di
Jakarta karena ada kartu Jakarta Pintar. Namun di daerah-daerah lain, masih
banyak yang kesulitan untuk mengenyam pendidikan. Meskipun target yang
diberikan MDGS sampai sekolah dasar, namun pemerintah mewajibkan sembilan (9) tahun
wajib belajar hingga SMP.
Selain biaya, kurikulum yang sering berubah-ubah juga menjadi faktor
penentu. Mungkin pemerintah menganggap itu yang terbaik bagi para siswa,
sedangkan fakta di lapangan belum menunjukan hal yang lebih baik. Contohnya
saja kurikulum 2013, di tingkat sekolah dasar ada beberapa pelajaran yang
dihilangkan, tingkat SMA, langsung memasuki penjurusan IPA atau IPS yang
biasanya ditentukan saat kelas XI. Selain itu, para guru diwajibkan untuk
mengajar dengan bahasa Inggris, yang belum tentu semua guru bisa melakukan hal
tersebut. Meskipun ada hal positif, yaitu menambah jam belajar siswa. Namun
bagi saya, itu percuma saja, karena sarana dan prasarana tiap sekolah berbeda,
sehingga itu hanya membuat siswa lelah karena hanya mengalami sedikit
perubahan.
Selain itu di tingkat Perguruan Tinggi, biaya kuliah yang setiap tahun
selalu naik. Indonesia telah menyatakan bahwa mendapatkan pedidikan adalah “HAK”
setiap warga negara. Namun pemerintah belum bisa menngani biaya pendidikan, dan
terkadang sarana kampus pun masih banyak yang kurang. Seharusnya pemerintah
bisa lebih bijak lagi dalam menangani keuangan untuk pendidikan di Indonesia
sehingga harga yang dibayar bisa seimbang dengan apa yang diterima oleh
mahasiswa.
Kemudian hasil penelitian yang telah dikembangkan, bisa didukung sehingga
hasil karya anak bangsa jangan selalu diberikan kepada negara lain tapi
didukung terus supaya Indonesia menjadi lebih maju, tidak hanya di perkotaan
tetapi sampai ke desa-desa. Lewat teknologi yang terus dikembangkan, diharapkan
juga bisa membantu untuk bidang-bidang lagi yang ada dalam MDGS seperti
kesehatan terutama angka kematian ibu dan bayi, kelaparan, penyakit,dll.
Selain itu pelestarian lingkungan juga menjadi hal yang patut
diperhatikan mengingat masalah Global Warming yang semakin parah. Diharapkan
banyak negara-negara yang menghasilkan oksigen terbanyak seperti Indonesia
terus berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Pemerintah juga harus tegas
terhadap para penebang liar yang ingin menguasai kehutanan negara kita.
Selain itu masalah kesehatan yang membuat MDGS ini mengalami kemuduran dari tahun 2015 menjadi 2025. Hal ini disebabkan kurangnya kontribusi dari pemerintah daerah terhadap program yang diadakan yaitu BKKBN.
Kesimpulannya yaitu apa yang diprogramkan negara, wajib kita dukung karena masa depan ada di tangan kita. Pemerintah sekarang hanya memfasilitasi saja, tapi ke depannya, Indonesia ada di tangan kita. Dan untuk pemerintah yang baru, program yang baik yang telah dilaksanakan harus dilanjutkan dengan inovasi-inovasi yang baru. Jangan buat negara ini yang telah mengalami kemajuan, malah mundur kembali. Dukunglah perkembangan-perkembangan yang positif sehingga kami anak-anak bangsa bisa semangat dalam mengerjakan tugas kami.
Langganan:
Postingan (Atom)